Jumlah perokok di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahunnya, bahkan demikian pula jumlah perokok pemula.

Menurut riset dari Atlas Tobacco, Indonesia menempati rangking pertama dengan jumlah perokok tertinggi di Indonesia, mengungguli Tiongkok, Filipina dan Vietnam.

“Ini menyedihkan kalau hanya juara merokok,” ungkap dr Lily Sriwahyuni Sulistyowati, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan beberapa waktu lalu.

Pemerintah bukannya tidak mengkampanyekan gerakan anti-rokok dalam beberapa tahun ke belakang, namun efektivitas program tersebut pantas dipertanyakan keberhasilannya.

Namun ada banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran. Salah satunya dengan melihat bagaimana Australia menyusun program penurunan jumlah perokok.

Dikutip dari BBC, menjadi perokok di Australia bukanlah hal yang mudah. Ada banyak larangan merokok di setiap sudut kota dan ruang publik. Misalnya, ada larangan merokok dalam radius 10 meter dari taman bermain anak-anak dan dalam jarak empat meter dari pintu masuk gedung umum, peron kereta, antrean taksi, dan halte bus. Bahkan sebagian besar negara bagian di Australia menerapkan larangan merokok di dalam penjara.

Bagaimana dengan kebijakan denda? Nilainya sangat luar biasa. Di beberapa tempat, perokok yang ketahuan merokok di lokasi yang salah akan didenda hingga Rp20 juta. Dan rencananya, pemerintah akan meningkatkan nilainya hingga tahun 2020.

Kemasan Tanpa Merk Rokok

Jika pemerintah Indonesia berusaha membujuk warganya dengan tidak merokok lewat pemasangan gambar bahaya dan risiko akan kegiatan tersebut di bagian depan kemasan, pemerintah Australia bertindak lebih jauh lagi.

Di Australia, kemasan rokok dijual dalam warna cokelat kelam, tanpa logo produsen, dan menampilkan gambar bahaya merokok yang menakutkan pada bagian depan.

Selain itu, ada juga gerakan sosial yang ditempuh yang didukung sepenuhnya oleh pemerintah Australia, yaitu dibuatnya aplikasi interaktif bernama My Quit Buddy, yang dirilis 2012 silam.

Aplikasi ini menawatkan tips-tips berhenti merokok, pesan memotivasi yang rutin dikirim setiap hari, menyarankan pengalih perhatian guna mengatasi kecanduan, dan tempat untuk berbagi kisah. Aplikasi ini telah diunduh lebih dari 400.000 kali di Australia saja.

“Ini menunjukkan ke orang-orang bahwa dengan berhenti merokok selama lima hari, Anda akan mulai melihat perubahan. Anda akan punya lebih banyak uang di dompet, kulit Anda lebih cerah,” ujar Paul Den, salah satu pencipta aplikasi My Quit Buddy.

Efek lanjutannya, forum komunitas orang-orang yang berhenti merokok menunjukkan kepada kaum perokok yang ingin berhenti merokok bahwa mereka tidak sendirian.

“Orang pada umumnya lebih mempercayai orang lain ketimbang pemerintah,” kata Den.

Apakah semua program tersebut efektif? Faktanya, dari catatan statistik yang dirilis Henrietta Moore dari Instirut Kesejahteraan Global di University College, London, jumlah perokok menunjukkan grafik penurunan yang signifikan sejak 1980.

Ditambahkan Moore, jumlah perokok di Australia hanya 13 persen dari total penduduk yang ada, di bawah rata-rata dunia sekitar 20 persen. Juga ada pula penurunan hampir 23 persen orang yang dirawat di rumah sakit karena merokok.

Simone Dennis, profesor dari Australian National University menambahkan, budaya malu turut ambil bagian dalam menurunkan jumlah perokok.

Juga, menurutnya, kegiatan merokok hanya dilakukan orang-orang di kalangan strata rendah dalam konteks sosio-ekonomi. Dan sulit melihat bagaimana nasib mereka jika rencana pemerintah Australia menaikkan pajak tembakau sehingga sebungkus rokok dihargai AUD$40 atau Rp400 ribu.

Jadi, masih terpikir untuk terus merokok?

Advertisements